Jumat, 25 Februari 2011

Pandangan Islam tentang Ilmu Pengetahuan

Pandangan Islam tentang Ilmu Pengetahuan
 Ilmu pangetahuan dalam pandangan Islam, baik yang diperoleh melalui ilmu pengetahuan maupun yang berasal dari wahyu Ilahi melalui agama, keduanya berasal dari Allah s.w.t., pengetahuan apapun yang dimiliki manusia dari karunia Allah s.w.t.
 Seperti yang dijelaskan dalam firman-Nya:

 dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!“(QS. Al-Baqarah, 2:31)
 Yang dimaksud dengan semua jenis nama disini adalah pengetahuan mengenai segala termasuk hakikat, fungsi dan sebagainya. Kemudian ketika Allah s.w.t. mengisyaratkan kepada para malaikat untuk memberikan penjelasan mengenai berbagai macam ilmu pengetahuan , para malaikat menjawab:

 mereka menjawab: "Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana[35].”(QS. Al-Baqarah, 2: 31)
 [35] Sebenarnya terjemahan hakim dengan Maha Bijaksana kurang tepat, karena arti hakim Ialah: yang mempunyai hikmah. Hikmah ialah penciptaan dan penggunaan sesuatu sesuai dengan sifat, guna dan faedahnya. di sini diartikan dengan Maha Bijaksana karena dianggap arti tersebut hampir mendekati arti Hakim.
 Ayat tersebut menjelaskan pada kita bahwa ilmu pengetahuan tentang segala sesuatu yang dimiliki makhluk- makhluk Allah berasal dari Allah s.w.t. baik baik diperoleh dari teori-teori ilmiah atau dari wahyu Ilahi. Sehingga dapat ditarik kesimpulan apabila keduanya berasal dari sumber yang satu yakni dari Allah s.w.t. sesungguhnya tidak ada pertentangan lagi karena keduanya bersifat saling melengkapi dan tidak perlu dipertentangkan. Jika dalam kenyataan terdapat pertentangan ini bisa desebabkan antara lain:
 1. ilmu pengetahun atau sains belum mencapai final(masih bersifat sementara), seperti perkembangan pandangan dan penemuan ilmuwan mengenai peredaran benda-benda langit. Pada awalnya ilmuwan berpendapat bahwa metahri mengelilingi bumi, kemudian dikoreksi menjadi bumi dan matahari yang beredar, lalu pandangan itu dikoreksi kembali bahwa semua benda langi beredar sesuai dengan garis edarnya masing-masing. Bahkan setiap atom itu beredar menurut garis edarnya masing-masing.
 Dan cobalah kita bandingkan dengan ayat Al-Qur’an dalam surat yasin yang telah diturunkan jauh sebelum teori tersebut:

 “tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya.”(QS. Yasin, 36:40)
 Dalam ayat ini, dijelaskan bahwa “kullun” setiap benda-benda alam itu dalam falaqnya beredar. Dari contoh inilah nanti akan dijumpai penemuan sains yang sudah final itu tidak akan bertentangan dengan wahyu Allah . Karena keduanya bersumber dari sumber yang sama yaitu Allah s.w.t.
 Contoh berikutnya, 2) disebabkan pemahaman terhadap wahyu itu sendiri tidak tepat, mungkin karena ketidak mengertian para agamawan atau ilmuwan atau ketidak tepatan mereka yang berkaitan dengan sains dan sebagainya saya ambil contoh proses terjadinya alam semesta
 9. Katakanlah: "Sesungguhnya Patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? (yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam".
 10. dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.(QS.Fushshilat 44:9-10)
 Kemudian ulama pada masa lalu sebelum adanya penelitian sains, ada yang memahami atau mengembangkan pemahaman dari ayat ini, dengan pendekatan pengetahuan pada saat itu. Waktu itu umumnya manusia berfikir enam masa yang dalam ayat tersebut merupakan 6 hari penciptaan alam semesta. Pemahaman seperti ini, dilakukan oleh sebagian agamawan adalah keliru pemahamannya. Dari sini diambil kesimpulan bukan ayatnya yang salah, tetapi pemahamannya kurang tepat.
 karena itu, didalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an atau wahyu-wahyu Allah yang berhubungan dengan kuniyah atau alam semesta itu tidak bisa dilepaskan dengan pekembangan sains. Dengan demikian informasi dari wahyu dan penelitian ilmiah yang berkaitan dengan sains adalah saling melengkapi.
Poskan Komentar